Senin, 04 Juli 2016

Jangan jadi Pemudik yang Wagu

Designer Ngglutech

Bulan suci Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Artinya sebentar lagi Kita akan Lebaran. Bagi Kita sebagai warga negara Indonesia tentu ada tradisi tahunan yang sudah bertahun-tahun yang akan terjadi. "Mudik" adalah tradisi pulang kampung bagi para perantauan yang bekerja di kota-kota besar untuk berjumpa sanak saudara di kampung halaman. Tidak tahu awalnya seperti apa sejak dahulu kala tradisi ini sudah menjadi rutinitas tahunan yang berjalan hingga saat ini. Orang sampai rela berdesak-desakan naik bus, kapal laut, maupun kereta. Ada yang naik bajaj sekeluarga, naik motor bertiga, berempat, berlima dst. Bahkan ada yang sampai rela naik sepeda onthel dari Bandung ke Gunungkidul (Yogyakarta). Kalau misal Gatotkaca sewa jasa gendong mudik mungkin juga akan disewa. Ibarat anak alay yang sedang jatuh cinta, "gunung kudaki lautan kuseberangi" untuk bisa menjalankan ritual mudik ini.
Ada hal-hal unik dari fenomena mudik. Berikut akan Saya ceritakan dan mungkin juga terjadi disekitar Anda. Tetapi sebelum melanjutkan membaca sebaiknya perhatikan aturan bacanya untuk mengurangi resiko kesalah fahaman, aturannya sebagai berikut:

  • Pastikan Anda mempunyai selera humor yang baik, tidak mudah tersinggung, pemaaf, penyabar dan rajin sholat. Hal ini akan mengurangi resiko Saya mendapat dosa dari tulisan ini.
  • Pastikan ketika membaca, kompor di dapur tidak dalam keadaan menyala, takutnya kelupaan gas abis sia-sia.
  • Pastikan Anda sudah makan atau dalam kondisi kenyang agar ketika emosi setelah membaca tulisan ini, Anda masih bisa mengontrolnya ya minimal nunggu buka.
  • Perhatikan kesehatan Anda apakah saat ingin membaca, Anda dalam kondisi yang fit atau dalam kondisi yang kebelet. Jika sedang kondisi kebelet baik kecil maupun besar sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu demi kenyamanan bersama. (dianjurkan cek up Dokter)
  • Jangan dibaca ketika sedang sibuk karena jujur tulisan ini tidak terlalu penting dan genting. Jadi carilah waktu luang yang seluang luangnnya sehingga ketika di dunia ini sudah tidak ada kegiatan yang tidak penting lagi barulah dibaca dengan seksama.
  • Ketika mau membaca sebaiknya melihat jam dahulu apakah mendekati waktu sholat atau tidak takutnya ketika sudah membaca ada adzan tulisan ini dijadikan kambing hitam dengan alasan "tanggung mbacanya". Yakinlah sholat yang pertama ditanya malaikat bukan isi dari tulisan ini.
  • Dan yang terakhir dan paling penting dari semua aturan adalah pastikan Anda bisa membaca.
Berikut diatas aturannya silahkan dipertimbangkan lagi untuk tetap membaca atau tidak, jika Anda tetap memaksa mau membaca, aturan diatas harap ditaati kalau melanggar penulis tidak bertanggung jawab atas resiko yang ditimbulkan.
Fenomena unik yang pertama adalah ada sebagian (tidak semua) pemudik yang mudik ketika sudah lama di kota sekitar satu hari biasanya suka lupa bahasa Jawa (bhs ditempat Saya). Tidak tahu kenapa Saya sering mendengar dan menyaksikan sendiri bahasanya menjadi gado-gado antara logat Jawa kecampur bahasa nasional. Berikut potongan kalimat yang sering terdengar, "Gua ndak isa", ada juga ini, "Kalau di kota itu rame ndak seperti neng kene sepi", ada lagi begini, "Lo jalan saja nanti ketemu rumah warna biru, Lo mlipir disebelahe trus dibelakang itu rumah Gua", ada yang sambil telp, "Oow iyo ini gua masih neng dalan bentar lagi sampe, sudah tekan perbatasan". Dan masih banyak lagi kalau mau Gua... eh... Saya jadikan kamus udah bisa satu bendel. Sekedar mengingat barangkali lupa kalau di kampung kata Gua/Gue itu bahasa ndesone Panjenengan atau Njenengan. Saya tidak tahu apakah ketika di kota itu ada radiasi bahasa atau virus kosakata atau bagaimana belum sempat Saya teliti. Mungkin lain waktu.
Fenomena yang kedua ketika di jalan-jalan di kampung macet banyak pemudik yang komplain, "Masak di kampung macet kayak di kota saja". Memang macet itu hak asasi kota saja.  Sekedar mengingatkan sebelum lebaran di kampung lengang tidak ada macet. Jadi penyebabnya siapa, yang komplain siapa hehe...
Fenomena ketiga ada beberapa pemudik yang salah kostum. Ketika belanja di pasar mereka suka memakai sepatu hak tinggi, baju tank top, dan sejenisnya. Sekedar mengingatkan, di kampung pasar tidak seperti di mall meskipun sama-sama tempat jual beli, disini kalau hujan sering becek gak ada ojek. Suhu udara disini juga relatif dingin kalau pakai tank top takutnya njenengan masuk angin kan repot. Masak dah dandan seksi-seksi ada kerokan di geger hehe...
Fenomena keempat pada kenyataannya barang bawaan yang di bawa ke kampung kelihatan banyak tetapi perhatikan ketika arus balik, bawaan dari kampung lebih banyak lagi ada beras karungan, ketela sebongkok, pisang setandan, kacang sekarung, pete berjajar, kelapa muda sepohonnya, dll belum ditambah lagi "sangu" dari mbok nya.
Masih banyak fenomena unik lainnya di sekitar Kita, tetapi nanti kalau kebanyakan ndak dikira penulis beneran. Pesan Saya jangan jadi pemudik yang Wagu (silahkan google arti katanya) yang menggangap orang kampung itu masih kampungan. Banyak pemudik yang tetap asik walaupun di kota sukses dan tetap bisa menempatkan diri ketika berada di kampung. Biarkan kampung tetap seperti kampung jangan dirubah menjadi kota. Kami memang tinggal di kampung tetapi tidak kampungan.
Nama Saya Yosef, Saya mantan pemudik yang pernah nyebrang segoro hanya untuk merantau. Saya bangga dengan gaya medok Saya. Dan tetap sarungan mesti cuma dolan adalah sesuatu yang nyaman. Selamat mudik semoga selamat sampai tujuan. Dan jangan lupa akan esensi mudik itu sendiri, bahwa mudik untuk bersillaturahmi dengan sanak saudara yang lama tidak bertemu.

Kamis, 14 Mei 2015

GUNUNGKIDUL yang sedang Naik Daun

Fotografer istri saya

Gunungkidul atau dalam bahasa Jawa gunung di sebelah kidul (selatan), mungkin sekitar tahun 80an akhir atau 90an jaman belum ada fenomena Alay, akan asing buat sebagian warga negara Indonesia. Seandainyapun mendengar berita di televisi pasti isinya tentang kekeringan atau kesulitan warganya mencari air. Jangankan air bersih bahkan air kotor pun susah apalagi air mata dipipimu mata air. Bahkan dulu mungkin sekarang masih ketika merantau, orang Gunungkidul beberapa akan menyembunyikan identitasnya dengan rapi dan rapat dari mana asalnya ketika ditanya. Pertanyaan "Dari mana mas?" merupakan pertanyaan yang sangat sakral bagi perantauan Gunungkidul. Dan jawabannya pasti dibuat ngambang "Jogja". Kalau sama-sama dari Jogja lanjutan pertanyaannya, "Jogjanya mana?" dijawab dengan salah tingkah "Gunungkidul". Kalau sama-sama Gunungkidul aman podo ndesone tapi kalau anak Jogja kota pertanyaan berikutnya ini yang bikin iba "Masih susah air ya mas?" urusannya jadi panjang penjelasannya. Kalau mau aman maka serangan baliknya adalah balik bertanya terus, supaya tidak ada pertanyaan lanjutan. Tetapi ketika yang nanya belum tahu tentang Gunungkidul (tahunya dari TV) dan dijawab "Dari Gunungkidul", maka yang nanya pasti dahinya berkenyit dan melanjutkan pertanyaan berikutnya "Dimana itu? masih Indonesia?" atau yang lebih Gunungkidul banget adalah "Disana air susah ya mas" huft..... itu merupakan kalimat pujian yang menyakitkan yang harus diterima sebagai warga Gunungkidul tulen. Karena tentu serangan berikutnya adalah "Jarang mandi ya hehehe....(sambil senyum preksodeng)" asem. Please sudah......sudah.. cukup hentikan pertanyaan-pertanyaan ituh....hatikuh hancur mendengarnya (sinetron mode on).
Tapi itu dulu, sekarang? tetep berita itu sudah mulai jarang terdengar tertutup dengan berita pesona keindahan obyek wisata di Gunungkidul. Baik pesona pantainya, air terjun, goa-goa kars atau obyek-obyek wisata baru yang mulai fenomenal membahana. Perlahan tapi pasti kesan kekeringan mulai terkikis keindahan wisatanya. Perhatikan saja sekarang ketika hari libur jalan dari Jogja-Wonosari Gunungkidul pasti macet padat merayap mengendap endap dipadati kendaraan yang akan berwisata. Saking macetnya bisa-bisa berangkat berdua dari Jogja nanti sampai Gunungkidul sudah bertiga sama anaknya (beranak di mobil) saking lamanya hehe.. (yang ini hiperbol). Sekarang dengan bangganya orang-orang pada foto di depan tulisan "GUNUNGKIDUL" yang berada di sekitar "Bukit Bintang" (bukit bintang terletak di Pathuk di jalan Jogja-Wonosari Gunugkidul). Dan yang unik orang Gunungkidul sendiri berlomba-lomba foto narsis baik dengan selfie maupun sofie di depan tulisan itu termasuk Saya :) pan tiap hari lewat situ bang. Ya nggak ada salahnya sih hanya saja seandainya mereka tahu sejarah bagaimana dulu beratnya para pejuang perantau mengaku sebagai orang Gunungkidul di perantauan jadi geli sendiri :) 
Fotografer istri saya

Sekarang Gunungkidul sudah membanggakan, para perantau sudah dengan lantang menjawab "Saya dari Gunungkidul" dengan dada membusung yang cowok saja ya, yang cewek jangan karena kesan kekeringan sudah berganti pesona wisata yang indah. Dan sebagai warga Gunungkidul tulen Saya hanya berharap hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan warganya. Gunungkidul biarlah tetap ndeso yang ramah tidak perlu ngutoni (berlagak orang kota) karena kalau orang Gunungkidul pada ngutoni semua lha... trus gimana nasib para pemudik lebaran mau pulang kemana mereka :D
Fotografer istri saya

Nama Saya Yosef, Saya warga Gunungkidul tulen dengan bahasa Indonesia yang tetep konsisten medok, Saya lebih suka walang goreng dibanding pizza, tiwul adalah nasi sakral Saya dan bisa jarang mandi adalah kebanggaan bagi Saya, meskipun tetep gagah bawaan lahir.

Selasa, 02 Desember 2014

Jangan Menjadi Mahasiswa yang Wagu

Sampai saat ini belum ada definisi wagu yang dijadikan rujukan. Tetapi ketika diungkapkan Kita sudah saling memahami. Wagu menurut Saya belum tentu sama dengan pembaca. Karena tidak ada alat ukurnya yang standar. Dan wagu dalam tulisan ini menurut versi atau definisi Saya. Jadi kalau tidak sama ya... anggap saja sama :). Cerita ini terinspirasi ketika Saya melihat banyaknya keluhan dari para siswa sekolah maupun mahasiswa. Dan tulisan ini bukan bermaksud negatif terhadap mereka hanya sekedar sharing tentang pengalaman Saya dulu ketika masih menjabat sebagai mahasiswa. Dan tentu berharap dapat dipetik pelajaran dari pengalaman ini. Jadi nyantai saja bacanya bisa sambil duduk ngemil, sambil tiduran, sambil makan, sambil nonton TV asal jangan sambil nongkrong ditoilet saja, takutnya nggak jadi keluar :D. 
Ketika masuk kuliah jaman dahulu kala Saya dalam kondisi yang kurang mengenakkan, disaat yang lain bisa nyantai cukup memikirkan kuliah saja, Saya terbebani dengan berbagai masalah dimana saat itu orang tua Saya bercerai, kondisi ekonomi kekurangan, masih ditambah lagi dengan status jomblo Saya saat itu menambah daftar penderitaan Saya. Coba saat itu ada tempat bersandar dipundak mungkin rada mendingan. Sudah ortu berpisah pacar pun tak ada, lengkap lah sudah :D Dimasa umur yang masih labil dan culun tentu sama seperti yang lain Saya juga mengalami masa galau yang berkepanjangan. Kalau menurut parameter anak alay tingkatannya dari galau tingkat RT sampai dewa mungkin level Saya saat itu sudah level Dewa hebat kan Saya. Untung saja dulu Saya anak yang wagu nggak gaul, culun, pemalu tingkat Dewa, minder bin kuper jadi ketika galau tidak pergi dugem. Boro-boro mau dugem pegang rokok saja Saya fals makanya gagal jadi perokok. Saat itu teman-teman Saya dari kampung jauh kostnya dari Saya. Perlu sedikit Saya jelaskan Saya kuliah di Jogja kota dan asal Saya dari kampung pinggiran Jogja tempat dulu kalau ada maling dibunuh dibuang di luweng atau minimal dibuang ke laut (luweng=terowongan bawah tanah yang dalam dan alami). Teman di kuliah pun belum banyak karena masih baru. Adapun teman kuliah yang sedaerah justru kadang memandang sebelah mata karena Saya dari kampung yang lebih dalam. Dengan kondisi yang demikian  menyenangkan mengharukan itu bisa dibayangkan bagaimana Saya mengikuti perkuliahan. Mungkin ada yang lebih parah kondisinya dari Saya Saya ikut prihatin dan bisa tetap bagus kuliahnya, tetapi Saya tidak sehebat itu. Aku lelaki yang tak sehebat Suparman. Kuliah Saya kacau, ikut kuliah hanya sekedar formalitas, mbolos itu sudah kewajiban, nitip tugas itu hobby, dan jomblo itu pasti. Saya selalu mengeluh ketika dapat tugas dari Dosen walaupun tidak Saya kerjakan, seandainya Saya kerjakanpun nyontek dari teman. Ujian jarang belajar meski sudah belajar tetap tidak bisa. Nilai jarang yang bagus IP terjun drastis dan sejenisnya. Saya benar-benar menjadi mahasiswa wagu saat itu. Kiriman uang kala itu juga pas-pasan cukup buat bayar makan saja kadang kalau ada keperluan mendadak seperti fotocopy ya jatah makannya dikurangi. Tentu dengan kondisi itu jarang ada cewek yang tertarik dengan Saya, seandainya adapun mungkin karena terlena dengan ketampanan Saya atau ketipu keluguan Saya atau yang lebih rasional mungkin lagi kilaf :)
Kondisi itu berlangsung hingga lebih dari separuh perjalanan kuliah Saya. Hingga suatu titik Alloh menegur Saya lewat teman. Ketika kami nongkrong di kontrakan teman tepatnya senior Saya, kita ngobrol ngalor ngidul seperti biasa sampai tidak tau gimana akhirnya ngobrol tentang kuliah. Saya ditanya teman Saya, "IP mu berapa Sef?" Saya pun menjawab "Nggak tau kira-kira 1, berapa lupa" jawab Saya tanpa dosa. Dengan santai teman menimpali "yah... kalau IP cuma segitu buat apa kuliah, mending keluar saja" sesaat Saya terdiam terus menjawab dengan bercanda dan mengalihkan pembicaraan. Sejak saat itu Saya tersadar mulai merenung dan memikirkan yang sudah Saya kerjakan selama ini. Sudah banyak waktu yang Saya sia-siakan, Saya tidak bertanggung jawab bahkan pada diri Saya sendiri. Sejak saat itu Saya berniat dalam hati kalau harus berubah. Perpisahan orang tua Saya tidak boleh jadi kambing hitam kegagalan Saya. Kekurangan ekonomi juga bukan alasan yang masuk akal buat gagal. Apalagi status jomblo berkepanjangan juga bukan alasan romantis buat gagal.
Foto ketika masih belum sadar

Sejak saat itu Saya kembali ke jalur hidup yang benar. Bagaimanapun juga kuliah harus selesai, Saya bisa menghindar dari kuliah, tugas, ujian, atau skripsi. Tetapi menghindar hanya memperpanjang waktu penderitaan saja. Sejak saat itu Saya mulai rajin kuliah, mengerjakan tugas, menyelesaikan skripsi meski sampai kurang tidur, kurang makan, muntah-muntah, pokoknya sampai titik darah penghabisan.
Foto ketika mengerjakan skripsi

Tetapi apakah setelah berubah jadi baik semua berjalan lancar? tentu tidak kecuali di sinetron terkadang Saya juga masih bolos kuliah, masih tidak mengerjakan tugas, atau menitip absen, hanya saja masih bisa dipertanggung jawabkan. Justru ketika berubah jadi baik setan tidak tinggal diam mereka justru bekerja keras mengembalikan ke jalan sesat tadi. Tetapi jika sudah niat dalam hati dan teguh pendirian ditambah dengan doa, pasti Alloh akan mambantu. Singkat cerita akhirnya lulus dengan nilai skripsi A meskipun beberapa matakuliah tidak terselamatkan nilainya.
Foto sebelum ujian pendadaran

Dan sekarang Saya menjadi pengajar mahasiswa yang dahulu ketika pertama kali seleksi Dosen menjadi peserta satu-satunya dengan rambut gondrong  dan lolos seleksi bangga donk. Karena yang lain barbaju rapi dan klimis Saya berambut gondrong sendiri hidup rambut grondrong, kemungkinan Saya salah tampilan waktu itu :).
Foto mengajar mahasiswa

Saya berharap dengan pengalaman Saya ini ada manfaat yang bisa diambil, jika sekiranya tidak bermanfaat mohon jangan disebarkan silahkan di close lalu abaikan saja. 
Seberapa berat beban hidupmu kerjakan saja selalu di jalan yang benar (berpedoman Al Qur'an dan Hadist) perkara Kamu mampu atau tidak, Alloh sudah menjamin tidak akan memberi beban diluar kemampuanmu. Dalam hidup kita berproses kita tidak tahu apakah kita akan berhasil atau tidak, tetapi pastikan bahwa Kamu berproses di jalan yang benar. 
Nama Saya Yosef, Saya mantan mahasiswa yang wagu, mantan mahasiswa mbolosan, Saya juga mantan anggota APeG TD (Alumni Pemuda Galau Tingkat Dewa), tetapi sekarang ingin jadi Ustadz.

Jumat, 13 Juni 2014

PT (Perusahaan TCinta)

Beberapa bulan ini(mungkin sekitar setahunan) Saya manjadi pengamat dadakan tentang status - status FB (facebook). Tetapi bukan di account Yosef Sona ini melainkan di account saya yang "Bimbingan Belajar Ngglutech" (FP : Ngglutech) atau Les Komputer yang Saya kelola. Tujuan Saya membuat account ini jelas bukan untuk menipu atau mengaku bujangan lalu menculik dan sejenisnya (tidak ada tampang kriminal :) ) akan tetapi untuk sosialisasi sekaligus promosi tentang Bimbingan Belajar Ngglutech. Sekaligus untuk mengetahui informasi minat anak-anak sekolah di bidang komputer khususnya lagi untuk mengikuti Les Komputer. Sampai sekarang ada 889 pertemanan(tidak semua anak sekolah), jumlah yang mungkin masih sedikit untuk promosi. Tetapi memang Saya sengaja mencari pertemanan yang anak sekolah dan yang dekat dengan lokasi Les komputer Ngglutech, walau ada sedikit yang lain. Pada awalnya Saya hanya mengamati status - status yang muncul di Beranda. Saya amati satu persatu, dari sekian banyak tidak satupun yang menyinggung tentang teknologi khususnya komputer. Kebanyakan (tidak semua) menuliskan tentang temannya, pacarnya, mantannya, pokoknya yang cinta-cintaanlah(Saya sudah lewat masa ini :) ). Dan nadanya kebanyakan yang mencaci, memaki, memuji, mendobosi, menggombali dan sejenisnya. Pikir Saya waktu itu "ah...ini baru awal pengamatan besok mungkin ada yang statusnya tentang komputer". Kenapa Saya mencari yang statusnya tentang komputer? karena kalau ada yang menulis status itu maka ini sasaran untuk mensosialisasi Les komputer Saya :). Kenapa harus nunggu nulis status seperti itu? karena biasanya dia ada minat di komputer jadi kemungkinan ikut les komputer lebih besar. Karena di Les Komputer Saya menekankan pada minat dan bakat di bidang Komputer. Bukan asal bisa ngetik atau facebookan saja :).
Saya lakukan pengamatan itu hampir setiap hari dan sampai kurang lebih hampir setahunan lebih ini Saya belum menemukan anak sekolah yang membicarakan tentang komputer (ketika Saya tidak mengamati ada yang nulis tidak dihitung ya). Dan yang ditulis masih sama kebanyakan tentang percintaan :). Saya penasaran apa sebenarnya penyebab anak-anak sekolah ini pada dewasa sebelum umurnya. Saya mengamati lebih dalam lagi, setiap yang menulis status percintaan Saya lihat profilnya, wall nya, foto-fotonya. Dan apa yang terjadi? fotonya jelas standard anak alay kalau nggak melet ya piss dua jari deket mata kalau yang cowok ya model rambut korden celana mlotrok(melorot dikit). Dan dari hasil penyelidikan secara mendalam dan fakta di TKP, Saya menemukan sesuatu yang menarik dan kemungkinan besar ini penyebab mereka selalu menulis tentang percintaan. Yaitu Saya menemukan kalau menulis status percintaan itu suatu pekerjaan. Tidak percaya? ini buktinya ada data otentik yang saya temukan di profil mereka. Di bagian tempat kerja, kebanyakan mereka bekerja di PT (Perusahaan TCinta). Saya copy paste tanpa di edit dari profil mereka :

PT kasih sayanx
PT.majuu mundurr
PT.pencari jodoh
PenDaftaran Cinta
Tau gak !!!! ,,,,,aku Lagi kangen kamu,,,,,
PT. Jomblo Sejati *
Manager keuangan "Cinta Aditya I.P f0rever"
PT.Sandiwara cinta
PT CINTA ABADI *
PENGACARA (Pengangguran Banyak Acara)
PT.PENCARI CINTA SEJATI
PT.Ora Maju-Maju
PMCS(Perusahaan Mencari Cinta Sejati)
IZINKAN AKU MENCINTAIMU DENGAN CARAKU ( кαяєηα αкυ вєявєdα )*
PT.MenCaRi keKasih yaNg sETia
PT.cinta abadi celama'a
SPA(Sing Penting Asyix)
PT Dimabuk Cinta
Direktur utama PT.CCS(cari cinta sejati)
1001 lelaki hanya 1 yg terbaix untukq
pt.CEMBURU BUTA
dan masih banyak lagi :D

ctt:
#Tanda (*) ada linknya (boleh dikunjungi kalau teman-teman minat daftar lowker disana :D *
#Saya mbacanya pakai penerjemah, Saya datangkan langsung ahli alay dari UAI (Universitas Alay Indonesia) 

Setelah melihat fakta yang ada Saya geleng-geleng kepala(bukan ajo jing ya) pantesan kagak ade nyang nulis status tentang komputer :)
Melihat fenomena yang ada Saya tidak kekurangan ide. Bagaimana kalau Les Komputer Saya di bikin rada romantis dan ada unsur cintanya. Diganti namanya menjadi "Bimbel Komputer Cinta Sejati Setia Sampai Mati" mungkin beberapa saat lagi banyak yang daftar :D
Dari cerita Saya di atas sebenarnya ada hikmah yang dapat diambil. Bagaimana orangtua(termasuk Saya) harus berperan dan memperhatikan anaknya. Jangan dikira anak kita sudah pintar kalau sudah bisa main internet atau di depan Laptop. Kita perlu mengawasi apa saja yang di kerjakan di depan komputer karena ketika Anda membiarkan anak Anda bermain internet sendiri tanpa pengawasan sama halnya Anda memasukkan anak Anda di hutan rimba. Sebenernya ada banyak hal menarik yang Saya amati misalnya anak yang santun yang dapat tag gambar porno dari temannya dan Saya yakin orang tuanya tidak tau padahal anak itu di kampung yang masih kampung lagi(mungkin lain waktu Saya bahas).
Terima kasih sudah sempat membaca cerita Saya semoga bermanfaat karena itu harapan Saya. Jika sekiranya tidak berkenan mohon diabaikan saja atau dikasih saran membangun, tidak usah mencaci maki Saya atau mencari-cari kejelekan Saya, atau kekurangan Saya atau membandingkan Saya dengan Al El Dul(jelas gagah Saya).
"Nama Saya Yosef dan Saya bukan calon PRESIDEN" 

Minggu, 30 Maret 2014

Kampanye dan PEMILU?

Sebenarnya Saya rada memeng dan gamang mau menulis ini. Dari judulnya saja sebenarnya Saya tidak tertarik (aslinya karena ilmu saya cetek dalam bidang politik masih mendingan ilmu kanuragan atau ilmu metafisik Saya). Saya juga tidak aji mumpung atau moment nya pas PEMILU biar populer seperti artis-artis(Saya sudah populer sekeluarga). Hanya saja menimbang, melihat, memperhatikan, menyaksikan dan mengalami sendiri Saya memutuskan untuk berbagi. Berbagi kebaikan kan dapat amal dan semoga dapat memberi manfaat(mohon diamini pembaca yang budiman). Tetapi bukan berarti Saya anti pati atau najis sama politik ya, hanya saja Saya lebih tertarik bidang lain. 
*Perhatian : Jika sebelum membaca atau sedang membaca atau setelah membaca Anda sudah mengindikasikan tidak mendapat manfaat, mohon di tutup tulisan ini dan jangan diberitakan kepada kalayak ramai tetapi sekiranya bermanfaat mohon di bagikan :)  Terima kasih.
Lanjut ke topik tidak pakai savalas, Kita sudah mengalami beberapa kali yang namanya PEMILU dan setiap kali PEMILU yang katanya pesta demokrasi itu tapi kok sepertinya rada menjauh dari maknanya. Ini tentu subyektif pendapat Saya dan bukan pendapat dari Partai atau pendapat Parti maupun Parto murni analisa bodon Saya.
Saya mencoba kembali ke masa lalu saat sekolah dulu(sebentar tunggu beberapa menit Saya mau membayangkan dulu waktu Saya pakai celana pendek biru sragam SMP Saya). Ketika itu Saya masih ingat di sekolah lagi ujian kemudian diluar terdengar burrrm..... ngong...retettet...brum...brum. Jelas bagi pihak sekolah yang lagi ujian itu sangat mengganggu karena kebetulan sekolah Saya dipinggir jalan raya. Tapi anehnya bagi Saya yang waktu itu sudah terdoktrin setiap kampanye musti gembar gembor motor "tidak merasa terganggu", malah rasanya ingin bergabung ikut gembar gembor motor. Waktu itu ada pandangan yang aneh di "sebagian masyarakat" (kayaknya sekarang juga masih) kalau gembar gembor motor di jalan saat kampanye itu seperti kewajiban(dah kayak Sholat saja) dan merasa gagah(bayangannya mungkin kayak Bang Roma naik kuda di film jaman dulu lalu memanggil Ani........ngiyeehh <== ilustrasi suara kuda). Andai saja umur Saya waktu itu sudah cukup mungkin akan ikut bergabung, tentu tidak naik kuda tapi naik motor soalnya kudanya masih di pakai Bang Roma :D Tetapi untungnya sampai saat ini Saya tidak pernah ikut karena setiap akan ikut selalu saja ada hal lain yang menghalangi Saya(salah satunya kudanya masih dipakai Bang Roma). Saya sempat bertanya dalam hati. Hati, dulu awal mulanya atau asal usul kalau kampanye harus gembar gembor motor itu siapa ya yang menciptakan??? (mungkinkah Bang Roma). Hatipun geleng-geleng kepala karena tidak tahu. Saya bertanya lagi manfaatnya apa buat masyarakat kebanyakan bukan masyarakat "sebagian"? dan apa hubungannya dengan Demokrasi? Hati pun geleng-geleng kepala tidak tahu. Haruskah Saya bertanya dengan Bang Roma? atau bertanya pada rumput yang bergoyang? goyangnya patah-patah apa ngebor? halah :D
Seandainya dengan gembar gembor motor saat kampanye memberi banyak manfaat, rakyat makmur, sejahtera dan memang itu arti Demokrasi mungkin Saya akan iklash menerimanya. Mungkin yang suka gembar gembor motor saat kampanye akan mbatin tulisan ini berlebihan, tetapi itu akan sangat wajar bagi Saya seorang Bapak yang memboncengkan anak yang baru berumur 15 bulan dan sedang digendong lalu bersisipan dengan kampanye dan dengan arogannya memakan jalan gembar gembor suara memekik telinga. Mungkin ada yang mbaten juga "mbok minggir dulu waktu ada kampanye", Saya perjelas itu di lampu merah dan depan belakang samping ada kendaraan semua, praktis Saya harus menerima keadaan(Saya juga bukan Gatotkaca yang bisa terbang). Itu baru gembar gembor motor belum yang mukulin dan nabrakin orang lain di jalan raya, belum lagi yang kecelakaan. Apesnya lagi aparat yang berwenang tidak bisa berbuat banyak(halah basi). Seandainya saja waktu itu Saya memegang Machine Gun(lihat gambar) mungkin sudah Saya brondong mereka. Mungkin lain waktu ;)


Dan karena Saya hanya tangan kosong, Saya hanya bisa ngelus dodo(bhs Indonesianya dada tapi jangan ngeres ini lagi serius). Sebagai rakyat kecil yang selalu dianggap bodoh maka Saya mempunyai usul dengan analisa bodon Saya. Bagaimana seandainya kalau kampanye itu dilakukan secara santun, elegan, saling menghormati, dan memberi manfaat tentunya. Contoh misal dari pada gembar gembor motor mbok yao kampanye itu seperti pawai kebudayaan jadi lebih menonjolkan budaya. Pokoknya apa saja yang penting dilihat, ditrawang (jangan diraba) itu enak dan orang yang bertemu senang bahkan menunggu-nunggu kedatangannya bukan malah takut, mengumpat atau nyumpahin(kalau berani meludahi). Masih analisa bodon Saya, logikanya kalau partai ngurus partainya atau kadernya saja gak bisa kok berani-beraninya mau ngurus negara(ngati-ati dicatet malaikat). Sebagai rakyat kecil tentu Saya hanya bisa usul dan berharap di dengar oleh para pemegang amanah. Saya juga berharap kebiasaan lama yang tidak bermanfaat kita tinggalkan dan berubah menjadi yang bermanfaat.
"Tidak ada yang tidak berubah yang tidak berubah itu adalah perubahan itu sendiri. Tapi pastikan yang tidak berubah itu kebaikan dan yang berubah itu kejelekan", nama Saya Yosef bukan Bang Roma dan Saya bukan Caleg. Jangan coblos Saya. 

Minggu, 23 Maret 2014

Mari MenDongeng

Untuk meningkatkan kemampuan Saya sebagai PRT (Papa Rumah Tangga) Kemarin hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 Saya beserta Istri mengikuti seminar "Cakrawala Pengetahuan Dasar" yang intinya membahas bagaimana orangtua mendidik anak yang baik dengan mengembangkan kebiasaan mendongeng dalam keluarga untuk optimalisasi tumbuh kembang anak. Ada beberapa hal yang menurut Saya perlu Saya bagikan ke para orangtua, orangmuda ataupun calon orangtua tapi orangutan tidak termasuk :), Saya hanya sekedar barbagi ilmu tidak bermaksud menggurui (satu ilmu satu guru jangan ganggu) dan tidak membagikan uang karena Saya bukan caleg :) Saya juga tidak memungut biaya sepeserpun dalam membagikan cerita ini, semuaya gratis :) Saya hanya berharap dapat memberi manfaat bagi sesama.
*catatan: jika pembaca merasa pusing saat membaca mohon dihentikan jangan diteruskan dan segera tutup tulisan ini boleh periksa ke Dukun :)
Lanjut ke dongeng seminar, pembicara yang pertama adalah seorang Ibu psikolog merangkap Dosen merangkap peneliti, pemerhati anak, merangkap Ibu rumah tangga dan merangkap apalagi Saya lupa, yang jelas beliau berkompeten di bidangnya. Ada satu hal yang menarik dari sekian hal yang di sampaikan, yang intinya beliau mempunyai pandangan bahwa seorang anak jangan dipaksakan untuk mengikuti pemikiran orangtua, sebaliknya orangtua boleh mengikuti pemikiran anak (jangan menyimpulkan dulu cerita baru dimulai). Dalam masa Golden Age istilahnya masa keemasan tumbuh kembang anak biasanya para orangtua getol berlomba-lomba mamacu anaknya supaya cerdas. Diajari membaca menulis menghitung(calistung) yang sebenarnya belum waktunya. Menurut beliau anak jangan dipaksakan belajar calistung biarkan saja berkembang sesuai umurnya (kurang lebih demikian). Pada umumnya di sekitar kita para orangtua akan bangga kalau anaknya yang masih TK sudah bisa calistung dan bagi orangtua yang anaknya belum bisa calistung akan menganggap anaknya tertinggal sehingga berlomba-lomba memaksakan anaknya untuk bisa calistung. Apesnya lagi banyak sekolah yang mensyaratkan anak harus bisa calistung untuk bisa masuk SD. Padahal pada masa itu anak masih dalam tahab bermain dan seharusnya kecerdasan emosional yang ditekankan bukan kecerdasan kognitif. Maka tidak heran kalau sekarang banyak orang pintar yang berkuasa disana pada korupsi dan ngapusi (tentu tidak semuanya). Dalam istilah Jawa "Pinter ning minteri". Saya sependapat dengan beliau kalau jangan memaksakan anak belajar sesuatu yang belum waktunya. 
Pembicara yang ketiga adalah Kak Adin seorang pendongeng anak (http://kakadin.wordpress.com). Sebentar perasaan baru pembicara yang pertama ya? pembicara yang kedua Saya lewati karena menawarkan produk (sponsor) :) 
Kak Adin mempraktekkan bagaimana mendongeng kepada anak. Hanya saja akan susah bagi Saya untuk menirukan beliau mendongeng bukan saja karena Saya bukan Pendongen tetapi juga karena Kak Adin bisa menirukan beberapa suara binatang, kendaraan dan lain-lain. Lha.... Saya menirukan ayam berkokok saja fals apalagi yang lain :) Tetapi menurut beliau orangtua tidak harus jadi pendongeng anak sepertinya untuk bisa mendongeng kepada anaknya, cukup bercerita dengan gayanya sendiri-sendiri dan dengan ekspresi. Pada sesi ini Saya juga sempat bertanya kepada beliau jenis-jenis cerita seperti apa yang cocok kepada anak berdasarkan umur. Dan ini jawaban beliau yang mungkin bisa kita jadikan referensi saat mendongeng supaya tidak salah tema :)
  1. Umur 0 - 6 tahun dongeng Fabel misal guling bisa bicara, buku bisa bicara pokoknya benda-benda bisa bicara (dunia imajinatif). Saya sudah melakukan percobaan pada Joyse(15 bulan) anak Saya dan Joyse ketawa saat Saya mendongeng, cuma Saya juga tidak tahu apakah tertawa karena dongeng Saya yang lucu apa menertawakan Papa nya yang wagu saat mendongeng :) 
  2. Umur 6 - 13 tahun dongeng petualangan (Saya masih suka dongeng ini)
  3. Umur 13 - 20 tahun dongeng cinta (Saya sudah lewat :) )
  4. Umur 20 - 30 tahun dongeng tentang usaha atau pengusaha sukses (dongeng kesukaan Saya)
  5. Umur 30 - 40 dongeng hikmah (Saya juga suka)
  6. Umur 40 ke atas dongeng beramal saleh (beliau sambil senyum)
Begitu dongeng dari Saya semoga bisa menghantar tidur bagi pembaca dan bisa tidur semakin nyenyak semakin dalam semakin dalam lagi :) 

Selasa, 03 Desember 2013

Teguran Subuh

Cerita ini bukan bermaksud untuk memamerkan kalau Saya sholat Subuh (lagian kepagian kalau mau pamer masih pada tidur :D) atau biar dianggap seorang Ustad (dari nama sudah tidak mendukung, Saya belum pernah dengar ada Ustad namanya Yosef :D) atau niat kurang baik lainnya. Cerita ini juga tidak ada hubungannya dengan kuliah subuh ataupun menyinggung SARA (bukan sara Azhari ya), hanya sekedar ingin berbagi cerita saja dan berharap ada manfaatnya bagi yang ingin membacanya.

Cerita ini diambil dari kisah nyata (semoga dibuat film) *Majas Hiperbola
Mungkin ada yang mengalami juga seperti apa yang Saya alami, tetapi bukan berarti Saya menjiplak atau meniru ya, dan cerita ini juga bukan fiktif tapi asli ketikan Saya :)
Beberapa hari ini (mungkin minggu atau bulan kalau tahun ya berlebihan) Saya selalu terlewat untuk menjalankan Sholat Subuh. Dan Sholat inilah yang menurut Saya rada kewalahan untuk menjalankannya. Beberapa saat bisa rutin tapi beberapa saat banyak bolongnya bahkan bablas saja. Saya bukan tidak berusaha untuk bangun pagi, Saya sudah mencoba memakai jam weker atau timer HP untuk bisa bangun pagi kalau di tempat Utinya Joyse (bagi yang belum tahu Joyse adalah anak Saya umurnya baru mau 1 tahun), cuma masalahnya kalau lagi ngeloni Joyse ya kasian nanti kaget. Sebagai seorang muslim tentu ini masalah buat Saya karena nanti saat ditanya malaikat Sholatmu gimana? Saya harus jawab gimana? Ya semoga saja saat kelewat tidak Sholat Subuh malaikatnya juga ketiduran :D jadi minimal bisa jawab "Lha Anda(malikat) saja tidur juga tadi pagi" jadi bisa aman :D
Lanjut cerita....tetapi mungkin Tuhan jengkel juga dengan Saya, sudah di kasih nikmat yang tidak terhingga, Sholat Subuh saja masih banyak kelewat (semoga Tuhan mengampuni Saya amin...). Di suatu Subuh tepatnya tanggal 3 Desember 2013 seperti biasa Saya masih terlelap tidur ngeloni Joyse dan Ibunya tentunya :). Entah kenapa saat itu pundak tepatnya pundak sebelah kiri seperti ditepuk seseorang, sontak saja Saya kebangun. Dalam pikiran Saya "Sopo iki setan wani ganggu aku, njaluk diwacake ayat Kursi" (dalam bahasa Indonesia "Siapa ini setan berani ganggu Saya, minta dibacakan ayat Kursi") sembari rada mrinding juga. Maklum sebelum ini Joyse kadang suka kebangun tengah malam teriak nangis-nangis secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Saat melihat jam dengan mata yang masih berat karena mengantuk sepertinya jam 3 malam. Menurut paranormal jam segini setan sedang aktif-aktifnya :D Setelah beberapa saat melihat sekeliling cuma ada istri dan anak Saya yang masih tertidur pulas, kemudian Saya berencana melanjutkan tidur. Baru saja meletakan kepala di bantal yang wangi, terdengar suara Adzan subuh, seketika hati ini terketuk. Dalam batin Saya, "Tuhan Maha segalanya mungkin tadi menyuruh malaikat mbangunin Saya". Setelah memastikan jam di dinding ternyata sekitar jam 4 mungkin tadi ada setan yang menghalangi atau memanipulasi mata Saya. Kemudian Saya bergegas berwudzu dan alhamdulillah pagi ini Sholat Subuh. Saya berharap ini berlanjut terus bisa bangun pagi dan menjalankan Sholat Subuh secara rutin amin...(mohon diaminin pembaca)
Sebenarnya hal tadi(pundak seperti ditepuk) Saya mengalami tidak cuma sekali bahkan beberapa kali yang jelas lebih dari satu kali, tetapi tidak selalu ditepuk di pundak kadang seperti kaki di tepuk atau ditarik, seperti dipanggil seseorang pas bangun tidak ada dan setelah itu selalu terdengar adzan Subuh.
Semoga dari cerita ini ada manfaatnya bagi yang membaca amin...