![]() |
| Designer Ngglutech |
Bulan suci Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Artinya sebentar lagi Kita akan Lebaran. Bagi Kita sebagai warga negara Indonesia tentu ada tradisi tahunan yang sudah bertahun-tahun yang akan terjadi. "Mudik" adalah tradisi pulang kampung bagi para perantauan yang bekerja di kota-kota besar untuk berjumpa sanak saudara di kampung halaman. Tidak tahu awalnya seperti apa sejak dahulu kala tradisi ini sudah menjadi rutinitas tahunan yang berjalan hingga saat ini. Orang sampai rela berdesak-desakan naik bus, kapal laut, maupun kereta. Ada yang naik bajaj sekeluarga, naik motor bertiga, berempat, berlima dst. Bahkan ada yang sampai rela naik sepeda onthel dari Bandung ke Gunungkidul (Yogyakarta). Kalau misal Gatotkaca sewa jasa gendong mudik mungkin juga akan disewa. Ibarat anak alay yang sedang jatuh cinta, "gunung kudaki lautan kuseberangi" untuk bisa menjalankan ritual mudik ini.
Ada hal-hal unik dari fenomena mudik. Berikut akan Saya ceritakan dan mungkin juga terjadi disekitar Anda. Tetapi sebelum melanjutkan membaca sebaiknya perhatikan aturan bacanya untuk mengurangi resiko kesalah fahaman, aturannya sebagai berikut:
- Pastikan Anda mempunyai selera humor yang baik, tidak mudah tersinggung, pemaaf, penyabar dan rajin sholat. Hal ini akan mengurangi resiko Saya mendapat dosa dari tulisan ini.
- Pastikan ketika membaca, kompor di dapur tidak dalam keadaan menyala, takutnya kelupaan gas abis sia-sia.
- Pastikan Anda sudah makan atau dalam kondisi kenyang agar ketika emosi setelah membaca tulisan ini, Anda masih bisa mengontrolnya ya minimal nunggu buka.
- Perhatikan kesehatan Anda apakah saat ingin membaca, Anda dalam kondisi yang fit atau dalam kondisi yang kebelet. Jika sedang kondisi kebelet baik kecil maupun besar sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu demi kenyamanan bersama. (dianjurkan cek up Dokter)
- Jangan dibaca ketika sedang sibuk karena jujur tulisan ini tidak terlalu penting dan genting. Jadi carilah waktu luang yang seluang luangnnya sehingga ketika di dunia ini sudah tidak ada kegiatan yang tidak penting lagi barulah dibaca dengan seksama.
- Ketika mau membaca sebaiknya melihat jam dahulu apakah mendekati waktu sholat atau tidak takutnya ketika sudah membaca ada adzan tulisan ini dijadikan kambing hitam dengan alasan "tanggung mbacanya". Yakinlah sholat yang pertama ditanya malaikat bukan isi dari tulisan ini.
- Dan yang terakhir dan paling penting dari semua aturan adalah pastikan Anda bisa membaca.
Fenomena unik yang pertama adalah ada sebagian (tidak semua) pemudik yang mudik ketika sudah lama di kota s
Fenomena yang kedua ketika di jalan-jalan di kampung macet banyak pemudik yang komplain, "Masak di kampung macet kayak di kota saja". Memang macet itu hak asasi kota saja. Sekedar mengingatkan sebelum lebaran di kampung lengang tidak ada macet. Jadi penyebabnya siapa, yang komplain siapa hehe...
Fenomena ketiga ada beberapa pemudik yang salah kostum. Ketika belanja di pasar mereka suka memakai sepatu hak tinggi, baju tank top, dan sejenisnya. Sekedar mengingatkan, di kampung pasar tidak seperti di mall meskipun sama-sama tempat jual beli, disini kalau hujan sering becek gak ada ojek. Suhu udara disini juga relatif dingin kalau pakai tank top takutnya njenengan masuk angin kan repot. Masak dah dandan seksi-seksi ada kerokan di geger hehe...
Fenomena keempat pada kenyataannya barang bawaan yang di bawa ke kampung kelihatan banyak tetapi perhatikan ketika arus balik, bawaan dari kampung lebih banyak lagi ada beras karungan, ketela sebongkok, pisang setandan, kacang sekarung, pete berjajar, kelapa muda sepohonnya, dll belum ditambah lagi "sangu" dari mbok nya.
Masih banyak fenomena unik lainnya di sekitar Kita, tetapi nanti kalau kebanyakan ndak dikira penulis beneran. Pesan Saya jangan jadi pemudik yang Wagu (silahkan google arti katanya) yang menggangap orang kampung itu masih kampungan. Banyak pemudik yang tetap asik walaupun di kota sukses dan tetap bisa menempatkan diri ketika berada di kampung. Biarkan kampung tetap seperti kampung jangan dirubah menjadi kota. Kami memang tinggal di kampung tetapi tidak kampungan.
Nama Saya Yosef, Saya mantan pemudik yang pernah nyebrang segoro hanya untuk merantau. Saya bangga dengan gaya medok Saya. Dan tetap sarungan mesti cuma dolan adalah sesuatu yang nyaman. Selamat mudik semoga selamat sampai tujuan. Dan jangan lupa akan esensi mudik itu sendiri, bahwa mudik untuk bersillaturahmi dengan sanak saudara yang lama tidak bertemu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar