![]() |
| Fotografer istri saya |
Gunungkidul atau dalam bahasa Jawa gunung di sebelah kidul (selatan), mungkin sekitar tahun 80an akhir atau 90an jaman belum ada fenomena Alay, akan asing buat sebagian warga negara Indonesia. Seandainyapun mendengar berita di televisi pasti isinya tentang kekeringan atau kesulitan warganya mencari air. Jangankan air bersih bahkan air kotor pun susah apalagi air mata dipipimu mata air. Bahkan dulu mungkin sekarang masih ketika merantau, orang Gunungkidul beberapa akan menyembunyikan identitasnya dengan rapi dan rapat dari mana asalnya ketika ditanya. Pertanyaan "Dari mana mas?" merupakan pertanyaan yang sangat sakral bagi perantauan Gunungkidul. Dan jawabannya pasti dibuat ngambang "Jogja". Kalau sama-sama dari Jogja lanjutan pertanyaannya, "Jogjanya mana?" dijawab dengan salah tingkah "Gunungkidul". Kalau sama-sama Gunungkidul aman podo ndesone tapi kalau anak Jogja kota pertanyaan berikutnya ini yang bikin iba "Masih susah air ya mas?" urusannya jadi panjang penjelasannya. Kalau mau aman maka serangan baliknya adalah balik bertanya terus, supaya tidak ada pertanyaan lanjutan. Tetapi ketika yang nanya belum tahu tentang Gunungkidul (tahunya dari TV) dan dijawab "Dari Gunungkidul", maka yang nanya pasti dahinya berkenyit dan melanjutkan pertanyaan berikutnya "Dimana itu? masih Indonesia?" atau yang lebih Gunungkidul banget adalah "Disana air susah ya mas" huft..... itu merupakan kalimat pujian yang menyakitkan yang harus diterima sebagai warga Gunungkidul tulen. Karena tentu serangan berikutnya adalah "Jarang mandi ya hehehe....(sambil senyum preksodeng)" asem. Please sudah......sudah.. cukup hentikan pertanyaan-pertanyaan ituh....hatikuh hancur mendengarnya (sinetron mode on).
Tapi itu dulu, sekarang? tetep berita itu sudah mulai jarang terdengar tertutup dengan berita pesona keindahan obyek wisata di Gunungkidul. Baik pesona pantainya, air terjun, goa-goa kars atau obyek-obyek wisata baru yang mulai fenomenal membahana. Perlahan tapi pasti kesan kekeringan mulai terkikis keindahan wisatanya. Perhatikan saja sekarang ketika hari libur jalan dari Jogja-Wonosari Gunungkidul pasti macet padat merayap mengendap endap dipadati kendaraan yang akan berwisata. Saking macetnya bisa-bisa berangkat berdua dari Jogja nanti sampai Gunungkidul sudah bertiga sama anaknya (beranak di mobil) saking lamanya hehe.. (yang ini hiperbol). Sekarang dengan bangganya orang-orang pada foto di depan tulisan "GUNUNGKIDUL" yang berada di sekitar "Bukit Bintang" (bukit bintang terletak di Pathuk di jalan Jogja-Wonosari Gunugkidul). Dan yang unik orang Gunungkidul sendiri berlomba-lomba foto narsis baik dengan selfie maupun sofie di depan tulisan itu termasuk Saya :) pan tiap hari lewat situ bang. Ya nggak ada salahnya sih hanya saja seandainya mereka tahu sejarah bagaimana dulu beratnya para pejuang perantau mengaku sebagai orang Gunungkidul di perantauan jadi geli sendiri :)
![]() |
| Fotografer istri saya |
Sekarang Gunungkidul sudah membanggakan, para perantau sudah dengan lantang menjawab "Saya dari Gunungkidul" dengan dada membusung yang cowok saja ya, yang cewek jangan karena kesan kekeringan sudah berganti pesona wisata yang indah. Dan sebagai warga Gunungkidul tulen Saya hanya berharap hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan warganya. Gunungkidul biarlah tetap ndeso yang ramah tidak perlu ngutoni (berlagak orang kota) karena kalau orang Gunungkidul pada ngutoni semua lha... trus gimana nasib para pemudik lebaran mau pulang kemana mereka :D
![]() |
| Fotografer istri saya |
Nama Saya Yosef, Saya warga Gunungkidul tulen dengan bahasa Indonesia yang tetep konsisten medok, Saya lebih suka walang goreng dibanding pizza, tiwul adalah nasi sakral Saya dan bisa jarang mandi adalah kebanggaan bagi Saya, meskipun tetep gagah bawaan lahir.


