Minggu, 30 Maret 2014

Kampanye dan PEMILU?

Sebenarnya Saya rada memeng dan gamang mau menulis ini. Dari judulnya saja sebenarnya Saya tidak tertarik (aslinya karena ilmu saya cetek dalam bidang politik masih mendingan ilmu kanuragan atau ilmu metafisik Saya). Saya juga tidak aji mumpung atau moment nya pas PEMILU biar populer seperti artis-artis(Saya sudah populer sekeluarga). Hanya saja menimbang, melihat, memperhatikan, menyaksikan dan mengalami sendiri Saya memutuskan untuk berbagi. Berbagi kebaikan kan dapat amal dan semoga dapat memberi manfaat(mohon diamini pembaca yang budiman). Tetapi bukan berarti Saya anti pati atau najis sama politik ya, hanya saja Saya lebih tertarik bidang lain. 
*Perhatian : Jika sebelum membaca atau sedang membaca atau setelah membaca Anda sudah mengindikasikan tidak mendapat manfaat, mohon di tutup tulisan ini dan jangan diberitakan kepada kalayak ramai tetapi sekiranya bermanfaat mohon di bagikan :)  Terima kasih.
Lanjut ke topik tidak pakai savalas, Kita sudah mengalami beberapa kali yang namanya PEMILU dan setiap kali PEMILU yang katanya pesta demokrasi itu tapi kok sepertinya rada menjauh dari maknanya. Ini tentu subyektif pendapat Saya dan bukan pendapat dari Partai atau pendapat Parti maupun Parto murni analisa bodon Saya.
Saya mencoba kembali ke masa lalu saat sekolah dulu(sebentar tunggu beberapa menit Saya mau membayangkan dulu waktu Saya pakai celana pendek biru sragam SMP Saya). Ketika itu Saya masih ingat di sekolah lagi ujian kemudian diluar terdengar burrrm..... ngong...retettet...brum...brum. Jelas bagi pihak sekolah yang lagi ujian itu sangat mengganggu karena kebetulan sekolah Saya dipinggir jalan raya. Tapi anehnya bagi Saya yang waktu itu sudah terdoktrin setiap kampanye musti gembar gembor motor "tidak merasa terganggu", malah rasanya ingin bergabung ikut gembar gembor motor. Waktu itu ada pandangan yang aneh di "sebagian masyarakat" (kayaknya sekarang juga masih) kalau gembar gembor motor di jalan saat kampanye itu seperti kewajiban(dah kayak Sholat saja) dan merasa gagah(bayangannya mungkin kayak Bang Roma naik kuda di film jaman dulu lalu memanggil Ani........ngiyeehh <== ilustrasi suara kuda). Andai saja umur Saya waktu itu sudah cukup mungkin akan ikut bergabung, tentu tidak naik kuda tapi naik motor soalnya kudanya masih di pakai Bang Roma :D Tetapi untungnya sampai saat ini Saya tidak pernah ikut karena setiap akan ikut selalu saja ada hal lain yang menghalangi Saya(salah satunya kudanya masih dipakai Bang Roma). Saya sempat bertanya dalam hati. Hati, dulu awal mulanya atau asal usul kalau kampanye harus gembar gembor motor itu siapa ya yang menciptakan??? (mungkinkah Bang Roma). Hatipun geleng-geleng kepala karena tidak tahu. Saya bertanya lagi manfaatnya apa buat masyarakat kebanyakan bukan masyarakat "sebagian"? dan apa hubungannya dengan Demokrasi? Hati pun geleng-geleng kepala tidak tahu. Haruskah Saya bertanya dengan Bang Roma? atau bertanya pada rumput yang bergoyang? goyangnya patah-patah apa ngebor? halah :D
Seandainya dengan gembar gembor motor saat kampanye memberi banyak manfaat, rakyat makmur, sejahtera dan memang itu arti Demokrasi mungkin Saya akan iklash menerimanya. Mungkin yang suka gembar gembor motor saat kampanye akan mbatin tulisan ini berlebihan, tetapi itu akan sangat wajar bagi Saya seorang Bapak yang memboncengkan anak yang baru berumur 15 bulan dan sedang digendong lalu bersisipan dengan kampanye dan dengan arogannya memakan jalan gembar gembor suara memekik telinga. Mungkin ada yang mbaten juga "mbok minggir dulu waktu ada kampanye", Saya perjelas itu di lampu merah dan depan belakang samping ada kendaraan semua, praktis Saya harus menerima keadaan(Saya juga bukan Gatotkaca yang bisa terbang). Itu baru gembar gembor motor belum yang mukulin dan nabrakin orang lain di jalan raya, belum lagi yang kecelakaan. Apesnya lagi aparat yang berwenang tidak bisa berbuat banyak(halah basi). Seandainya saja waktu itu Saya memegang Machine Gun(lihat gambar) mungkin sudah Saya brondong mereka. Mungkin lain waktu ;)


Dan karena Saya hanya tangan kosong, Saya hanya bisa ngelus dodo(bhs Indonesianya dada tapi jangan ngeres ini lagi serius). Sebagai rakyat kecil yang selalu dianggap bodoh maka Saya mempunyai usul dengan analisa bodon Saya. Bagaimana seandainya kalau kampanye itu dilakukan secara santun, elegan, saling menghormati, dan memberi manfaat tentunya. Contoh misal dari pada gembar gembor motor mbok yao kampanye itu seperti pawai kebudayaan jadi lebih menonjolkan budaya. Pokoknya apa saja yang penting dilihat, ditrawang (jangan diraba) itu enak dan orang yang bertemu senang bahkan menunggu-nunggu kedatangannya bukan malah takut, mengumpat atau nyumpahin(kalau berani meludahi). Masih analisa bodon Saya, logikanya kalau partai ngurus partainya atau kadernya saja gak bisa kok berani-beraninya mau ngurus negara(ngati-ati dicatet malaikat). Sebagai rakyat kecil tentu Saya hanya bisa usul dan berharap di dengar oleh para pemegang amanah. Saya juga berharap kebiasaan lama yang tidak bermanfaat kita tinggalkan dan berubah menjadi yang bermanfaat.
"Tidak ada yang tidak berubah yang tidak berubah itu adalah perubahan itu sendiri. Tapi pastikan yang tidak berubah itu kebaikan dan yang berubah itu kejelekan", nama Saya Yosef bukan Bang Roma dan Saya bukan Caleg. Jangan coblos Saya. 

Minggu, 23 Maret 2014

Mari MenDongeng

Untuk meningkatkan kemampuan Saya sebagai PRT (Papa Rumah Tangga) Kemarin hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 Saya beserta Istri mengikuti seminar "Cakrawala Pengetahuan Dasar" yang intinya membahas bagaimana orangtua mendidik anak yang baik dengan mengembangkan kebiasaan mendongeng dalam keluarga untuk optimalisasi tumbuh kembang anak. Ada beberapa hal yang menurut Saya perlu Saya bagikan ke para orangtua, orangmuda ataupun calon orangtua tapi orangutan tidak termasuk :), Saya hanya sekedar barbagi ilmu tidak bermaksud menggurui (satu ilmu satu guru jangan ganggu) dan tidak membagikan uang karena Saya bukan caleg :) Saya juga tidak memungut biaya sepeserpun dalam membagikan cerita ini, semuaya gratis :) Saya hanya berharap dapat memberi manfaat bagi sesama.
*catatan: jika pembaca merasa pusing saat membaca mohon dihentikan jangan diteruskan dan segera tutup tulisan ini boleh periksa ke Dukun :)
Lanjut ke dongeng seminar, pembicara yang pertama adalah seorang Ibu psikolog merangkap Dosen merangkap peneliti, pemerhati anak, merangkap Ibu rumah tangga dan merangkap apalagi Saya lupa, yang jelas beliau berkompeten di bidangnya. Ada satu hal yang menarik dari sekian hal yang di sampaikan, yang intinya beliau mempunyai pandangan bahwa seorang anak jangan dipaksakan untuk mengikuti pemikiran orangtua, sebaliknya orangtua boleh mengikuti pemikiran anak (jangan menyimpulkan dulu cerita baru dimulai). Dalam masa Golden Age istilahnya masa keemasan tumbuh kembang anak biasanya para orangtua getol berlomba-lomba mamacu anaknya supaya cerdas. Diajari membaca menulis menghitung(calistung) yang sebenarnya belum waktunya. Menurut beliau anak jangan dipaksakan belajar calistung biarkan saja berkembang sesuai umurnya (kurang lebih demikian). Pada umumnya di sekitar kita para orangtua akan bangga kalau anaknya yang masih TK sudah bisa calistung dan bagi orangtua yang anaknya belum bisa calistung akan menganggap anaknya tertinggal sehingga berlomba-lomba memaksakan anaknya untuk bisa calistung. Apesnya lagi banyak sekolah yang mensyaratkan anak harus bisa calistung untuk bisa masuk SD. Padahal pada masa itu anak masih dalam tahab bermain dan seharusnya kecerdasan emosional yang ditekankan bukan kecerdasan kognitif. Maka tidak heran kalau sekarang banyak orang pintar yang berkuasa disana pada korupsi dan ngapusi (tentu tidak semuanya). Dalam istilah Jawa "Pinter ning minteri". Saya sependapat dengan beliau kalau jangan memaksakan anak belajar sesuatu yang belum waktunya. 
Pembicara yang ketiga adalah Kak Adin seorang pendongeng anak (http://kakadin.wordpress.com). Sebentar perasaan baru pembicara yang pertama ya? pembicara yang kedua Saya lewati karena menawarkan produk (sponsor) :) 
Kak Adin mempraktekkan bagaimana mendongeng kepada anak. Hanya saja akan susah bagi Saya untuk menirukan beliau mendongeng bukan saja karena Saya bukan Pendongen tetapi juga karena Kak Adin bisa menirukan beberapa suara binatang, kendaraan dan lain-lain. Lha.... Saya menirukan ayam berkokok saja fals apalagi yang lain :) Tetapi menurut beliau orangtua tidak harus jadi pendongeng anak sepertinya untuk bisa mendongeng kepada anaknya, cukup bercerita dengan gayanya sendiri-sendiri dan dengan ekspresi. Pada sesi ini Saya juga sempat bertanya kepada beliau jenis-jenis cerita seperti apa yang cocok kepada anak berdasarkan umur. Dan ini jawaban beliau yang mungkin bisa kita jadikan referensi saat mendongeng supaya tidak salah tema :)
  1. Umur 0 - 6 tahun dongeng Fabel misal guling bisa bicara, buku bisa bicara pokoknya benda-benda bisa bicara (dunia imajinatif). Saya sudah melakukan percobaan pada Joyse(15 bulan) anak Saya dan Joyse ketawa saat Saya mendongeng, cuma Saya juga tidak tahu apakah tertawa karena dongeng Saya yang lucu apa menertawakan Papa nya yang wagu saat mendongeng :) 
  2. Umur 6 - 13 tahun dongeng petualangan (Saya masih suka dongeng ini)
  3. Umur 13 - 20 tahun dongeng cinta (Saya sudah lewat :) )
  4. Umur 20 - 30 tahun dongeng tentang usaha atau pengusaha sukses (dongeng kesukaan Saya)
  5. Umur 30 - 40 dongeng hikmah (Saya juga suka)
  6. Umur 40 ke atas dongeng beramal saleh (beliau sambil senyum)
Begitu dongeng dari Saya semoga bisa menghantar tidur bagi pembaca dan bisa tidur semakin nyenyak semakin dalam semakin dalam lagi :)