Selasa, 02 Desember 2014

Jangan Menjadi Mahasiswa yang Wagu

Sampai saat ini belum ada definisi wagu yang dijadikan rujukan. Tetapi ketika diungkapkan Kita sudah saling memahami. Wagu menurut Saya belum tentu sama dengan pembaca. Karena tidak ada alat ukurnya yang standar. Dan wagu dalam tulisan ini menurut versi atau definisi Saya. Jadi kalau tidak sama ya... anggap saja sama :). Cerita ini terinspirasi ketika Saya melihat banyaknya keluhan dari para siswa sekolah maupun mahasiswa. Dan tulisan ini bukan bermaksud negatif terhadap mereka hanya sekedar sharing tentang pengalaman Saya dulu ketika masih menjabat sebagai mahasiswa. Dan tentu berharap dapat dipetik pelajaran dari pengalaman ini. Jadi nyantai saja bacanya bisa sambil duduk ngemil, sambil tiduran, sambil makan, sambil nonton TV asal jangan sambil nongkrong ditoilet saja, takutnya nggak jadi keluar :D. 
Ketika masuk kuliah jaman dahulu kala Saya dalam kondisi yang kurang mengenakkan, disaat yang lain bisa nyantai cukup memikirkan kuliah saja, Saya terbebani dengan berbagai masalah dimana saat itu orang tua Saya bercerai, kondisi ekonomi kekurangan, masih ditambah lagi dengan status jomblo Saya saat itu menambah daftar penderitaan Saya. Coba saat itu ada tempat bersandar dipundak mungkin rada mendingan. Sudah ortu berpisah pacar pun tak ada, lengkap lah sudah :D Dimasa umur yang masih labil dan culun tentu sama seperti yang lain Saya juga mengalami masa galau yang berkepanjangan. Kalau menurut parameter anak alay tingkatannya dari galau tingkat RT sampai dewa mungkin level Saya saat itu sudah level Dewa hebat kan Saya. Untung saja dulu Saya anak yang wagu nggak gaul, culun, pemalu tingkat Dewa, minder bin kuper jadi ketika galau tidak pergi dugem. Boro-boro mau dugem pegang rokok saja Saya fals makanya gagal jadi perokok. Saat itu teman-teman Saya dari kampung jauh kostnya dari Saya. Perlu sedikit Saya jelaskan Saya kuliah di Jogja kota dan asal Saya dari kampung pinggiran Jogja tempat dulu kalau ada maling dibunuh dibuang di luweng atau minimal dibuang ke laut (luweng=terowongan bawah tanah yang dalam dan alami). Teman di kuliah pun belum banyak karena masih baru. Adapun teman kuliah yang sedaerah justru kadang memandang sebelah mata karena Saya dari kampung yang lebih dalam. Dengan kondisi yang demikian  menyenangkan mengharukan itu bisa dibayangkan bagaimana Saya mengikuti perkuliahan. Mungkin ada yang lebih parah kondisinya dari Saya Saya ikut prihatin dan bisa tetap bagus kuliahnya, tetapi Saya tidak sehebat itu. Aku lelaki yang tak sehebat Suparman. Kuliah Saya kacau, ikut kuliah hanya sekedar formalitas, mbolos itu sudah kewajiban, nitip tugas itu hobby, dan jomblo itu pasti. Saya selalu mengeluh ketika dapat tugas dari Dosen walaupun tidak Saya kerjakan, seandainya Saya kerjakanpun nyontek dari teman. Ujian jarang belajar meski sudah belajar tetap tidak bisa. Nilai jarang yang bagus IP terjun drastis dan sejenisnya. Saya benar-benar menjadi mahasiswa wagu saat itu. Kiriman uang kala itu juga pas-pasan cukup buat bayar makan saja kadang kalau ada keperluan mendadak seperti fotocopy ya jatah makannya dikurangi. Tentu dengan kondisi itu jarang ada cewek yang tertarik dengan Saya, seandainya adapun mungkin karena terlena dengan ketampanan Saya atau ketipu keluguan Saya atau yang lebih rasional mungkin lagi kilaf :)
Kondisi itu berlangsung hingga lebih dari separuh perjalanan kuliah Saya. Hingga suatu titik Alloh menegur Saya lewat teman. Ketika kami nongkrong di kontrakan teman tepatnya senior Saya, kita ngobrol ngalor ngidul seperti biasa sampai tidak tau gimana akhirnya ngobrol tentang kuliah. Saya ditanya teman Saya, "IP mu berapa Sef?" Saya pun menjawab "Nggak tau kira-kira 1, berapa lupa" jawab Saya tanpa dosa. Dengan santai teman menimpali "yah... kalau IP cuma segitu buat apa kuliah, mending keluar saja" sesaat Saya terdiam terus menjawab dengan bercanda dan mengalihkan pembicaraan. Sejak saat itu Saya tersadar mulai merenung dan memikirkan yang sudah Saya kerjakan selama ini. Sudah banyak waktu yang Saya sia-siakan, Saya tidak bertanggung jawab bahkan pada diri Saya sendiri. Sejak saat itu Saya berniat dalam hati kalau harus berubah. Perpisahan orang tua Saya tidak boleh jadi kambing hitam kegagalan Saya. Kekurangan ekonomi juga bukan alasan yang masuk akal buat gagal. Apalagi status jomblo berkepanjangan juga bukan alasan romantis buat gagal.
Foto ketika masih belum sadar

Sejak saat itu Saya kembali ke jalur hidup yang benar. Bagaimanapun juga kuliah harus selesai, Saya bisa menghindar dari kuliah, tugas, ujian, atau skripsi. Tetapi menghindar hanya memperpanjang waktu penderitaan saja. Sejak saat itu Saya mulai rajin kuliah, mengerjakan tugas, menyelesaikan skripsi meski sampai kurang tidur, kurang makan, muntah-muntah, pokoknya sampai titik darah penghabisan.
Foto ketika mengerjakan skripsi

Tetapi apakah setelah berubah jadi baik semua berjalan lancar? tentu tidak kecuali di sinetron terkadang Saya juga masih bolos kuliah, masih tidak mengerjakan tugas, atau menitip absen, hanya saja masih bisa dipertanggung jawabkan. Justru ketika berubah jadi baik setan tidak tinggal diam mereka justru bekerja keras mengembalikan ke jalan sesat tadi. Tetapi jika sudah niat dalam hati dan teguh pendirian ditambah dengan doa, pasti Alloh akan mambantu. Singkat cerita akhirnya lulus dengan nilai skripsi A meskipun beberapa matakuliah tidak terselamatkan nilainya.
Foto sebelum ujian pendadaran

Dan sekarang Saya menjadi pengajar mahasiswa yang dahulu ketika pertama kali seleksi Dosen menjadi peserta satu-satunya dengan rambut gondrong  dan lolos seleksi bangga donk. Karena yang lain barbaju rapi dan klimis Saya berambut gondrong sendiri hidup rambut grondrong, kemungkinan Saya salah tampilan waktu itu :).
Foto mengajar mahasiswa

Saya berharap dengan pengalaman Saya ini ada manfaat yang bisa diambil, jika sekiranya tidak bermanfaat mohon jangan disebarkan silahkan di close lalu abaikan saja. 
Seberapa berat beban hidupmu kerjakan saja selalu di jalan yang benar (berpedoman Al Qur'an dan Hadist) perkara Kamu mampu atau tidak, Alloh sudah menjamin tidak akan memberi beban diluar kemampuanmu. Dalam hidup kita berproses kita tidak tahu apakah kita akan berhasil atau tidak, tetapi pastikan bahwa Kamu berproses di jalan yang benar. 
Nama Saya Yosef, Saya mantan mahasiswa yang wagu, mantan mahasiswa mbolosan, Saya juga mantan anggota APeG TD (Alumni Pemuda Galau Tingkat Dewa), tetapi sekarang ingin jadi Ustadz.

2 komentar:

  1. Skripsi A... hmm saluuuut, sapa dulu maha guru besarnya...qiqiqiqiq :p

    BalasHapus
  2. gurunya nilainya kalah hehe...piss...

    BalasHapus